Serba Serbi Sragen

Kabupaten Sragen ialah suatu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang ibukatanya terdapat di Sragen, ataupun dekat 30 km sisi timur Kota Surakarta. Sragen berbatasan dengan Kabupaten Grobogan di sisi utara, Ngawi( Jawa Timur) di timur, Karanganyar di selatan, dan Boyolali bagian barat.

Kabupaten Sragen, Kota Adat, darmawisata yang Asri itu diketahui dengan gelar” Dunia Sukowati”, ialah julukan yang dipakai semenjak era kewenangan Kerajaan Kasunanan Surakarta. Julukan Sragen dipakai sebab pusat rezim di Sragen.

Sragen rutenya bila dari Jakarta dengan memakai pesawat melambung tujuan Lapangan terbang Adi Sumarmo Solo setelah itu alat transportasi taksi langsung dapat mengantar ke Sragen yang jaraknya dekat 30 km dari Solo. Bila memakai angkutan biasa ke Halte Tirnonadi dilanjutkan Bis Bidang Sragen. Dengan Sepur Api tujuan stasiun Pacuan Solo, setelah itu meneruskan ekspedisi alat transportasi biasa mengarah Sragen ataupun naik taksi ke Halte Tirtonadi mengarah Sragen

Sragen bila arah dari Surabaya, dengan pesawat melambung tujuan Lapangan terbang Adi Sumarmo Solo, dilanjutkan kendataan biasa langsung ke Sragen ataupun ke Halte Tirnonadi dilanjutkan bis bidang Sragen. Bila dari Yogyakarta dengan bis tujuan Madiun ataupun Surabaya langsung turun di Sragen. Bila dengan alat transportasi individu, arah Yogyakarta- Klaten- Kartasura- Solo- Sragen ataupun jaraknya dekat 110 kilometer.

Sragen dari Semarang, dengan dengan bis tujuan Solo langsung turun di Sragen. Tetapi, bila dengan alat transportasi individu rutenya Semarang- Salatiga- Boyolali- Solo- Sragen, ataupun jaraknya dekat 120 kilometer.

Hari jadi Kabupaten Sragen diresmikan dengan Perda No: 4 Tahun 1987, ialah pada hari Selasa Pon, bertepatan pada 27 Mei 1746. Bertepatan pada serta durasi itu, ialah dari hasil riset dan amatan pada kenyataan asal usul, kala Pangeran Bendahara yang nanti jadi Sri Baginda Hamengku Buwono yang ke- I menikamkan pilar awal melaksanakan perlawanan kepada Belanda mengarah bangsa yang berhak dengan membuat sesuatu rezim lokal di Dusun Pendek, Karangnongko masuk Tlatah Sukowati sisi timur Sragen.

Jalan serta Prosesi

Pangeran Bendahara adik dari Sunan Pakubuwono II di Mataram amat memusuhi Penjajah Belanda. Terlebih sehabis Belanda banyak mengintervensi Mataram bagaikan Rezim yang berhak.

Oleh sebab itu dengan niat yang menyala adiwangsa belia itu celus dari kastel serta melaporkan perang dengan Belanda. Dalam asal usul peperangan itu, diucap dengan Perang Mangkubumen( 1746- 1757).

Pada ekspedisi perangnya pangeran belia dengan pasukannya dari Istana beranjak melampaui Desa- desa Pinus, Tingkir, Wonosari, Karangsari, Ngerang, Memerlukan, Guyang. Setelah itu meneruskan ekspedisi ke Dusun Pendek, Karangnongko masuk tlatah Sukowati.

Di Dusun ini Pangeran Bendahara membuat Rezim Disiden. Dusun Pendek, Karangnongko dijadikan pusat Rezim Projo Sukowati, serta Dia meresmikan namanya jadi Pangeran Sukowati dan mengangkut pula sebagian administratur Rezim. Sebab, dengan cara geografis terdapat di pinggir Jalur Rute Angkatan Kompeni Surakarta- Madiun, pusat Rezim itu dikira kurang nyaman, hingga setelah itu semenjak 1746 dipindahkan ke Dusun Gebang yang terdapat disebelah tenggara Dusun Pendek Karangnongko.

Semenjak itu, Pangeran Sukowati meluaskan wilayah kekuasaannya mencakup Dusun Krikilan, Paku, Asli, Prampalan, Mojoroto, Celep, Jurangjero, Grompol, Kaliwuluh, Jumbleng, Lajersari serta sebagian dusun Lain.

Dengan wilayah kewenangan dan gerombolan yang terus menjadi besar Pangeran Sukowati lalu menembus melaksanakan perlawanaan pada Kompeni Belanda pundak membahu dengan saudaranya Raden Abang Said, yang selesai dengan akad Giyanti pada tahun 1755, yang populer dengan Akad Palihan Negari, ialah kasunanan Surakarta serta Kasultanan Yogyakarta, dimana Pangeran Sukowati jadi Baginda Hamengku Buwono ke- 1 serta akad Salatiga tahun 1757, dimana Raden Abang Said diresmikan jadi Bupati Mangkunegara I dengan memperoleh setengah area Kasunanan Surakarta.

Semenjak bertepatan pada 12 Oktober 1840 dengan Pesan Ketetapan Sunan Pakis Buwono VII ialah serat Angge- angger Gunung, wilayah yang lokasinya penting ditunjuk jadi Pos Tundan, ialah tempat buat melindungi kedisiplinan serta keamanan kemudian rute benda serta pesan dan koreksi jalur serta jembatan, tercantum salah satunya merupakan Pos Tundan Sragen.

Kemajuan berikutnya semenjak bertepatan pada 5 juni 1847 oleh Sunan Pakis Buwono VIII dengan persetujuan Residen Surakarta Baron De Geer ditambah kewenangan ialah melaksanakan kewajiban kepolisian serta karenanya diucap Kabupaten Gunung Pulisi Sragen. Setelah itu bersumber pada Staatsblaad Nomor. 32 atau 1854, hingga disetiap Kabupaten Gunung Pulisi dibangun Majelis hukum Kabupaten, dimana Bupati Pulisi jadi Pimpinan serta dibantu oleh Kliwon, Panewu, Rangga serta Kalangan.

Semenjak 1869, wilayah Kabupaten Pulisi Sragen mempunyai 4) Area, ialah Area Sragen, Area Grompol, Area Sambungmacan serta Area Majenang. Berikutnya semenjak Sunan Pakis Buwono VIII serta berikutnya diadakan pembaruan lalu menembus dibidang Rezim, dimana pada kesimpulannya Kabupaten Gunung Pulisi Sragen disempurnakan jadi Kabupaten Pangreh Praja. Pergantian ini diresmikan pada era Rezim Pakis Buwono X, Rijkblaad Nomor. 23 atau 1918, dimana Kabupaten Pangreh Praja bagaikan Wilayah Bebas yang melakukan kewenangan hukum serta Rezim.

Pada kesimpulannya merambah Era Kebebasan Penguasa Republik Indonesia, Kabupaten Pangreh Praja Sragen jadi Penguasa Wilayah Kabupaten Sragen yang saat ini mempunyai 20 area kecamatan, ialah Kedawung, Miri, Gesi, Gondang, Plupuh, Sukodono, Mondokan, Tangen, Jenar, Sambungmacan, Sumberlawang, Kalijambe, Ngrampal, Karangmalang, Sidoharjo, Tanon, Sambirejo, Masaran, Sragen, Gemolong,

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *