Belajar Membuat Pewarna Alami Batik

Langkah Belajar Membuat Pewarna Alami Batik

Batik lovers, sebagai orang yang koleksi baju batik dan selalu gemar memakai batik di berbagai kesempatan, mau kamu tahu tentang bagaimana sih batik itu dibuat, khususnya tentang pewarnaan kain batik, sehingga menjadi kain batik yang bermotif bagus.

Batik merupakan sebuah seni menggambar pada selembar kain yang menggunakan teknik malam atau lilin. Kalau diartikan dari bahasa aslinya batik berasal dari kata mbatik yang dalam bahasa jawa berarti kegiatan membuat titik titik berpola dan membentuk gambar dan warna yang bagus.

Dulunya sampai sekarang batik yang asli adalah hanya batik tulis, namun karena lamanya proses pengerjaan dan permintaan batik semakin banyak, maka dibuatlah alat cap yang hasilnya disebut dengan batik cap. Kedua batik ini masih dianggap sebagai batik asli karena menggunakan proses pemalaman atau pelilinan.

Nah dalam artile ini anda akan belajar tentang bagaimana batik itu diberi warna. Awalnya pewarnaan kain batik menggunakan bahan bahan alami, namun di zaman modern ini banyak pengrajin batik yang memilih untuk menggunakan pewarna sintetis dengan tujuan mempersingkat dan mempermudah pengerjaan. Namun sesungguhnya pemakaian bahan pewarna alami lebih baik untuk membatik meskipun butuh proses yang lebih panjang. Selain nilai estetika dan nilai jualnya yang lebih tinggi, ternyata bahan pewarna alami sangat ramah lingkungan, karena biasanya pengrajin membuang sisa cairan pewarna setelah proses membatik selesai. Bayangkan lingkungan ekosistem air yang sudah tercemari oleh pewarna cair yang dibuang sembarangan, tentunya menganggu kestabilan lingkungan.

Pada proses pembatikan dengan menggunakan pewarna alami, pencemaran lingkungan tidak akan terjadi. Bahan pewarna alami memiliki konsentrat warna yang stabil sehingga memungkinkan dipakai sampai habis dengan berulang kali pemakaian atau dicampukan lagi dengan air pewarna yang baru terus menerus. Kemudian, sisa dari limbah padat dari hasil rebusan, bisa digunakan kembali yaitu dengan mengolahnya menjadi pupuk kompos. Oleh karena itu, upaya untuk membatik dengan pewarna alami sering digalakkan untuk mengembangkan produk berbasis ramah lingkungan.

Untuk memperoleh bahan pewarna alami, para pengrajin batik biasanya memakai aneka bagian dari tumbuhan, seperti kulit, daging buah, dan daun. aneka  bahan yang digunakan antara lain daun indigofera, daun duren, daun rambutan, kulit rambutan, kulit mangga, kulit jengkol,  buah alpukat dan buah manggis. Jika sobat batik lover cermati, batik yang menggunakan pewarna alami memiliki warna-warna pastel – tidak mencolok. Berikut ini cara membuat pewarna alami untuk batik:

1. Pilih bahan yang akan digunakan, misalnya kulit mangga. Potong bagian bahan itu menjadi ukuran kecil-kecil. Bisa juga anda memblender bahan sampai halus.

2. Masukkan potongan-potongan atau bubur hasil blenderan tersebut ke dalam panci dengan perbandingan 1 kilogram bagian tumbuhan: 10 liter air.

3. Rebus semuanya sampai mendidih, lalu diamkan dengan api kecil hingga volume air berkurang dan menjadi setengahnya. Untuk mengetahui apakah cairan itu bisa digunakan atau tidak caranya cukup simple. Jika cairan berubah warna pekat, maka bisa digunakan. Tetapi apabila cairan masih bening, artinya tidak ada pigmen yang berada dibahan yang anda rebus, dan silahkan buat sekali lagi mungkin dengan bahan lain.

4. Hasil rebusan itu selanjutnya disaring dengan kain kasa atau lebih mudahnya dengan saringan halus, setelah disaring, air didiamkan minimal semalaman, Simpan air yang berwarna itu di ember plastik atau ember/panci stainless (jangan gunakan panci yang berbahan aluminium atau besi, kedua jenis panci itu bisa mempengaruhi warna).

5. Air yang berwarna pekat hasil ekstrak dari penyaringan ini telah siap menjadi pewarna alami.

Pewarna alam ini bisa langsung dipakai untuk membuat batik tulis

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *